screedbot

  • top1
  • top 2

3f57f dsc 1867

KPPPA Deputi Kesetaraan Gender kembali menggalakkan upaya pemberdayaan perempuan, khususnya di daerah di mana permasalahan perdagangan manusia dan pekerja migran serta kekerasan terhadap perempuan dan anak masih marak terjadi. Salah satu cara untuk menggapai upaya ini adalah dengan membangun kapasitas ekonomi perempuan, terutama dalam sektor industri rumahan. KPPPA tidak hanya memberikan fasilitas, tetapi juga pelatihan sebagai bantuan kepada penduduk di beberapa daerah Indonesia.
Kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat produktivitas perempuan, sehingga mereka dapat manghasilkan pendapatan tambahan melalui pelatihan di bidang skill (komputer, salon, menjahit), serta pembuatan souvenir, makanan khas, atau potensi pendapatan lainnya sesuai dengan khas daerah masing-masing. Di saat bersamaan, KPPPA juga menyumbangkan fasilitas kepada industri rumaha di 14 kabupaten dan kotamadya di Cilegon, Tanah Datar, Palembang, Landak, Lampung Selatan, Kendal, Rembang, Bangka Tengah, Sumba Barat daya, Ternate, Lombok Tengah, Wonosobo, Cirebon, dan Manggarai Barat.
Lain halnya di Papua, KPPPA berfokus pada daerah yang belum memiliki industri perumahan. Bersama dengan Pusat Pembinaan Pelatihan Wanita (P3W), KPPPA mengadakan Pelatihan Pemberdayaan Perempuan di Balai Latihan Kerja. Konten pelatihan ini mencakup pengolahan bahan alam khas Papua, mulai dari singkong dan kopi di Wamena; kopi dan tapioka di Jayapura; vco dan sagu di Biak dan Serui; serta jagung di Nabire. KPPPA dan P3W juga menawarkan pembelajaran ketrampilan ukir kepada komunitas perempuan di Jayapura.
Dikedepannya, program pelatihan dan pemberdayaan perempuan di seluruh pelosok Indonesia ini diharapkan dapat menghasilkan komunitas perempuan yang tidak hanya berketrampilan dan produktif, tetapi juga dapat berkontribusi kepada peningkatan ekonomi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

1cd60 img 8789

Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember merupakan hari dimana hampir seluruh masyarakat di Indonesia merayakan peringatan tersebut untuk para ibu di Indonesia dengan berbagai cara. Hal tersebut membuktikan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa hari Ibu merupakan penting. Hari Ibu sendiri pada sejarahnya ada kerena usaha dari para perempuan-perempuan Indonesia. Maka dari itu peringatan hari ibu sebaiknya diperingati untuk seluruh perempuan (masyarakat) di Indonesia. Dengan cara mendukung perempuan lebih maju dan menyetarakan hak-hak nya di segala bidang.

Seiring berjalannya waktu, telah ada beberapa kegiatan atau tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghargai dan menaikkan derajat perempuan atau disetarakan hak nya dengan laki-laki. Dan salah satu cara yang telah dilakukan saat ini untuk memperingati hari Ibu bagi para perempuan di seluruh Indonesia yaitu dengan diadakannya serangkaian peringatan hari Ibu yang diadakan oleh kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Salah satunya yaitu dengan diadakannya seminar pada 15 desember 2016 di Hotel Crowne Plaza, Jakarta, dengan judul seminar “kesetaraan perempuan dan laki-laki untuk mewujudkan indonesia bebas kekerasan, perdagangan orang dan kesenjangan ekonomi”. Beberapa rangkaian kegiatan pada Peringatan Hari Ibu ke 88 tahun 2016 ini yaitu berbentuk Seminar, Bhakti sosial, Pameran, Ziarah ke taman makam pahlawan, Pemberian penghargaan, upacara bendera, dan Acara Puncak.

preview

Bapak dr. Heru P. Kasidi M.Sc selaku Deputi Kesetaraan Gender menyatakan “Dengan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan masukan dan nilai tambah untuk kemajuan pembangunan di masa depan”. Beliau menghadiri acara ini sebagai Key note speaker sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut lalu di lanjutkan oleh narasumber, diantaranya Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Ibu Linda Agum Gumelar S. Ip, dan Ibu Dra. Ratih Ibrahim, Mm, Psi.

Ibu Linda yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini menyatakan bahwa “Pembangunan karakter itu dimulai dari keluarga, boleh kita taat pada sesuatu, namun jangan menjadi fanatik terhadap sesuatu. Dan para perempuan dan laki-laki harus punya mindset apa itu kesetaraan gender, karena pengertian dari kesetaraan gender itu bukanlah sebuah emansipasi berlebihan, melainkan mendapat kesempatan yang sama, berpartisipasi, dan dapat menikmati hasil pembangunan.” tutup Ibu Linda.

Seminar dihadiri oleh 250 orang terdiri dari pelaku sejarah, tokoh perempuan, dan organisasi-organisasi seperti Oase, Kowani, Dharma Pertiwi, Dharma Wanita Persatuan, Bhayangkari Pusat, Pimpinan Organisasi Perempuan, Wanita TNI, serta generasi muda, dan mahasiswa. Untuk mewujudkan “3 Ends” dalam pembangunan bangsa melalui pembangunan yang responsive gender diharuskan adanya kerjasama 3 pillar yaitu pemerintah, masyarakat dan peran swasta.

preview2

Melalui seminar ini diharapkan dapat terjadinya silaturahmi antara komponen-komponen perempuan indonesia, serta dapat memberikan kontribusi kepemimpinan bagi kemajuan kaum perempuan pada umumnya. Dan masyarakat Indonesia dapat memberikan kontribusi atau pengaruh positif bagi peningkatan kualitas hidup, pemenuhan hak dan kemajuan perempuan dan anak serta membantu mengimplentasikan program three ends kepada lapisan masyarakat.

Akhir-akhir ini, banyak diberitakan soal kekerasan terhadap anak. Ada yang dipukul, disiram dengan air panas, hingga ada juga yang tubuhnya disetrika. Kenyataan itu sangat memprihatinkan dan makin meneguhkan persepsi bahwa kekerasan terhadap anak belum bisa diselesaikan, walaupun dengan aturan hukum dan perundang-undangan.

Selain adanya kekerasan fisik terhadap anak, ada pula bentuk kekerasan yang dialami anak-anak. Misalnya, penjualan anak untuk tujuan komersial. Baru-baru ini kita mendengar berita di Batam, kepolisian berhasil menggagalkan penjualan beberapa bayi ke Singapura. Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak, saat ini tercatat lebih dari 3.800 anak menjadi korban kekerasan dan diperdagangkan di beberapa negara, seperti Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Di Indonesia, kekerasan terhadap anak sudah membudaya dan dilakukan turun-temurun. Akibatnya, dari tahun ke tahun kasus kekerasan terhadap anak terus bertambah. Salah satu pemicunya adalah kemiskinan atau kesulitan ekonomi yang dihadapi para orang tua.

Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya faktor pemicu kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak terkait erat dengan faktor kultural dan struktural dalam masyarakat.

Dari faktor kultural, misalnya, adanya pandangan bahwa anak adalah harta kekayaan orang tua atau pandangan bahwa anak harus patuh kepada orang tua seolah-olah menjadi alat pembenaran atas tindak kekerasan terhadap anak. Bila si anak dianggap lalai, rewel, tidak patuh, dan menentang kehendak orang tua, dia akan memperoleh sanksi atau hukuman, yang kemudian dapat berubah menjadi kekerasan.

Faktor struktural diakibatkan adanya hubungan yang tidak seimbang (asimetris), baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Di sini, anak berada dalam posisi lebih lemah, lebih rendah karena secara fisik, mereka memang lebih lemah daripada orang dewasa dan masih bergantung pada orang-orang dewasa di sekitarnya.

Akibatnya, pendiskreditan dan pendistorsian anak secara struktural sering terjadi, baik secara sadar maupun tidak. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya para orang tua, untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, berpartisipasi optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Paradigma bahwa anak adalah milik orang tua harus segera diubah. Untuk itu, diperlukan peran serta pemerintah dan kepedulian masyarakat..

Anggapan bahwa anak adalah milik orang tua sehingga orang tua berhak melakukan apa pun terhadap anak jelas tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Sebab pada prinsipnya, anak adalah titipan Tuhan kepada para orang tua untuk dicintai, dijaga, dan dibesarkan.

Dengan paradigma bahwa anak adalah milik orang tua, ketika orang tua depresi atau stres karena menghadapi persoalan hidup, anak pun menjadi pelampiasan kekecewaan.

Selain itu, kecekatan pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi diharapkan dapat membantu menekan angka kekerasan anak. Karena itu, pemerintah harus menjadikan masalah kemiskinan dan penyediaan lapangan pekerjaan sebagai prioritas utama.

Lebih penting lagi, kesadaran masyarakat untuk ikut membantu mengawasi dan melindungi anak-anak juga perlu ditingkatkan. Kalau ada tetangga yang memukul anaknya, kita harus berani menegur dan mencegahnya. Sebab, anak-anak dilindungi undang-undang..

Secara yuridis formal, pemerintah telah memiliki Undang-Undang (UU) No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak, Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak. Meski demikian, realitas kesejahteraan anak masih jauh dari harapan. Busung lapar yang hingga kini masih dialami sejumlah balita di beberapa daerah menegaskan buruknya kondisi anak di Indonesia.

Belum lagi, persoalan kekerasan terhadap anak, baik yang dipekerjakan di sektor pekerjaan terburuk, diperdagangkan, maupun korban eksploitasi seksual. Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan, di Indonesia terdapat 4.201.452 anak (berusia di bawah 18 tahun) terlibat dalam pekerjaan berbahaya, lebih dari 1,5 juta orang di antaranya anak perempuan.

Bahkan, data IPEC/ILO memperkirakan, terdapat 2,6 juta pekerja rumah tangga (PRT) di Indonesia dan sedikitnya 34,83 persen tergolong anak. Sekitar 93 persen anak perempuan (Kompas, 2/7/05). PRT anak perempuan berada dalam posisi rentan, mulai situasi kerja buruk, eksploitasi, hingga kekerasan seksual.

Di pedesaan, kemiskinan, pernikahan dini, minimnya pendidikan, dan kondisi kesehatan yang buruk mendorong anak perempuan terjerembap dalam prostitusi dan masuk dalam jerat perdagangan manusia.

Karena itu, untuk menanggulangi persoalan tersebut, perlu ada penegakan hukum maksimal. Sebab, bukan tidak mungkin fakta-fakta tentang kesengsaraan dan kesusahan hidup anak akan mengakibatkan persoalan yang sangat pelik di masa mendatang.

Adapun langkah nyata yang harus dilakukan adalah mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap anak, seperti pemasangan stiker, pelatihan kepada ibu-ibu, dan permintaan dukungan dari pemerintah daerah agar hak-hak anak perlu dilindungi.

Di layar kaca sering kali kita lihat berbagai acara yang mengusung dunia anak-anak sebagai pilihan menu utama. Berbagai kontes dan lomba penyanyi anak bermunculan di banyak stasiun televisi. Setiap anak dari penjuru Nusantara yang terpilih berlomba-lomba mengeluarkan kemampuan terbaik dalam berolah vokal. Terkadang, ambitus suara yang muncul kerap kali sumbang atau mimik yang kurang dapat menghayati tema lagu yang dilantunkan. Kalaupun keduanya dapat diekspresikan dengan baik, toh, pada akhirnya menjadi aneh karena yang melagukan anak-anak. Kenapa demikian?

Jawabannya simpel karena syair lagu yang dibawakan senantiasa bertemakan cinta dan asmara sehingga memosisikan anak-anak dalam satu ruang yang penuh keterbatasan.

Di tahun 1980-an banyak penyanyi anak-anak yang cukup terkenal seperti Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha. Tahun 1990-an, penyanyi seperti Cikita Meydi, Eno Lerian, Leoni, Dea Ananda, dan banyak lagi yang kesemuanya memberi ikon masa kanak-kanak yang khas lewat lagunya tentang persahabatan, pendidikan, kasih sayang ibu, sebuah harapan dan cita-cita layaknya syair lagu Joshua yang berangan menjadi seorang Habibie, atau banyak hal tentang semangat militansi dunia anak. Kini, ke mana tema-tema lagu anak tersebut? Kasihan, jangan-jangan anak-anak telah kehilangan dunianya.

Wanita racun dunia merupakan sepenggal syair yang saat itu mengisi ruang acara pentas penyanyi cilik di salah satu stasiun televisi terkemuka. Bagaimana apabila kalimat tersebut diterjemahkan ke dalam dunia anak-anak yang notabene berada dalam masa transisi, dunia tanpa filter, lugu dan apa adanya?

Musik ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, secara psikologis, musik dapat membawa peran yang positif dalam pembentukan mental dan perilaku. Misalnya, musik klasik yang senantiasa digunakan sebagai sarana terapi oleh banyak ibu hamil atau musik gamelan yang pada banyak tempat dipercaya sebagai sarana yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhannya lihat upacara di Bali, Jawa.

Di sisi yang berbeda terkadang musik justru dapat mengonstruksi mental, perilaku, dan sikap ke dalam sebuah ruang yang terisolasi, asing, aneh, bahkan cenderung indoktrinatif dan intervensial.

Simak saja banyak pemuda yang kehilangan jati diri dan mengubah penampilannya karena mendengar jenis aliran musik tertentu, atau seseorang yang nekat mengakhiri nyawa karena terinspirasi beberapa lagu aneh lihat efek lagu Marylin Manson di tahun 1990-an dan banyak hal lainnya.

Oleh karena itu, musik juga ibarat bahasa. Di dalamnya mengandung berbagai alunan kata yang penuh muatan pesan. Apabila disuarakan oleh orang yang pas, pesan dapat tersampaikan dengan baik dan komunikatif terlepas dari implikasi baik dan buruknya. Apabila tidak, layaknya seorang dalang wayang Jawa yang nekat pentas di permukiman masyarakat Papua, terlihat aneh dengan bahasa yang membingungkan. Begitu pula dengan musik di dunia anak-anak kita saat ini. Mereka harus bersuara, tetapi yang disuarakan bukan lagi dari hati yang mewakili mereka, bukan lagi tema-tema dunianya yang dibawa. Mereka harus bernyanyi tetapi bukan lagi bertema pendidikan, persahabatan, cita-cita, kasih sayang ibu, tapi bertema asmara dan cinta-cintaan. Kini, mereka hanya menjadi semacam wadah yang dieksploitasi sedemikian rupa guna memenuhi tuntutan materi.

Soal materi
Patut kita sadari, membiarkan anak-anak membawakan lagu-lagu bertema asmara dan cinta-cintaan akan membawa banyak konsekuensi logis bagi mereka. Pertama, jangkauan (ambitus) vokal anak-anak tentu sangat berbeda dengan orang dewasa. Akibatnya, ketika mereka membawakan lagu asmara atau cinta-cintaan yang notabene lagu orang dewasa, suara mereka akan cenderung sumbang karena tidak mampu menjangkau nada tinggi atau rendah dengan baik sehingga terkesan dipaksakan.

Kedua, belum atau bahkan tidak akan mampu dalam menghayati tema lagu yang dibawakan karena mereka belum pernah mengalami masa dewasa dengan mengenal apa yang namanya asmara dan cinta-cintaan.

Lebih parahnya, apabila mereka dapat menghayati dan mengerti arti tema lagu asmara yang mereka nyanyikan, tidakkah mereka beranjak dewasa sebelum waktunya?

Beberapa waktu yang lalu muncul berita tentang pelecehan seksual oleh seorang siswa SMP terhadap teman sebayanya. Seorang anak SMA yang nekat mengakhiri hidup karena tidak lulus ujian atau bahkan karena diputus oleh kekasihnya. Ada juga perbuatan mesum salah seorang siswa SMP yang terekam kamera telepon seluler. Alih-alih atas dasar kredo cinta, seorang anak SMP rela menikah dengan orang yang layak menjadi kakeknya. Entah apa yang ada dalam benak anak-anak masa kini? Mungkinkah hal itu dapat dipandang sebagai sebuah era di mana cekaknya mentalitas berpikir dunia anak menjadi tren? Atau tidakkah salah satu penyebabnya juga karena persoalan sepele di atas, yakni masalah penempatan musik?

Memang terlalu dini menyangkutpautkan persoalan itu dengan realitas musik bertema asmara dan cinta-cintaan dalam dunia anak- anak. Setiap orang dapat melagukannya dengan ekspresi dan pembawaan masing-masing, terlebih untuk kepentingan materi. Musik dapat digubah menjadi alat yang mampu mendatangkan timbunan rupiah yang terkadang lebih penting dari efektivitas musik itu sendiri. Akan tetapi, jangan hanya persoalan materi kita akan mengorbankan dan menghilangkan sebuah masa. Masa di mana penuh imajinasi, canda tawa, keluguan, dan apa adanya, yakni masa anak-anak.
Di sini sama sekali tidak ada maksud untuk menyalahkan musik. Hal ini karena pada dasarnya musik adalah benda mati yang akan hidup ketika manusia membutuhkannya. Bukan juga hendak menyalahkan anak- anak yang beranjak dewasa sebelum waktunya karena melagukan sebuah musik. Namun, sudah selayaknya kita kembalikan sebuah masa bagi anak- anak yang kini telah hilang dengan menempatkan musik pada koridor dan ruang yang semestinya.

Link Terkait

Statistik Pengunjung

005807
Hari ni
Kemarin
Minggu ni
Minggu lalu
Bulan ni
Bulan lalu
Total
20
20
54
5479
382
775
5807

Your IP: 54.147.40.153
2017-12-12 21:49
© 2017 DPPPA. All Rights Reserved.